Rabu, 05 Juli 2023

RENCANA, STRATEGI DAN MANAJEMEN AKSI

 RENCANA, STRATEGI DAN MANAJEMEN AKSI


Pengantar Manajemen Aksi


Hal yang paling dasar dalam PMII adalah pembekalan dirinya dengan kapasitas intelektual yang memadai. Karena tanpa dasar konsepsional yang jelas, gerakan PMII juga tidak akan menemukan kejelasan pada wilayah strategi dan taktik gerakannya. Apalagi, asumsi dasar pergerakan adalah berawal dari konteks yang bernama pendidikan. Muh. Hanif Dakhiri dan Zaini Rahman (2000), mengutip Ben Agger (1992), mengatakan bahwa titik berangkat paling strategis bagi PMII adalah mentransformasikan kehidupan intelektual sebagai investasi soial, politik dan kebudayaan.


Dalam kontkes inilah, semangat liberasi (pembebasan) dan independensi (kemandirian) yang pernah lahir dalam sejarah pemikiran PMII menjadi sebuah rujukan yang cukup signifikan. Wilayah pembebasan dari konteks penindasan, baik dari represifitas otoritas politik (negara-militer-partai), maupun otoritas soial (agama, pendidik,) dan ekonomi (pasar). Dengan filosofi liberasi akan terjadi proses perjuangan melampaui segala beban berat kehidupan demi melanjutkan amanat kemanusiaan, sesuai dengan mandat yang diperoleh dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP).


Sejalan dengan semangat liberasi dan independensi di atas itulah, PMII juga harus berperan menciptakan ruang bagi publik (public sphere) yang kondusif untuk mengembangkan kehidupan. Di titik inilah, Free Market of Ideas (FMI) menjadi signifikan untuk diciptakan pada ruang-ruang kemasyarakatan, kenegaraan dan keilmuan. Karena perlawanan terhadap hegemoni negara, ideologi, pasar dan agama harus dihadapi dengan membuka sekian pintu kesadaran yang sengaja dikunci demi kepentingan kekuasaan.


Pada perbincangan tadi, kita sebenarnya sedang bergulat dengan dasar dan semangat pergerakan untuk perlawanan. Dasar pergerakan ini akan menjadi lebih tajam, sebagai sebuah kerangka jawaban bagi persoalan kemasyarakatan apabila kita jeli dalam melihat persoalan yang mengemuka, baik pada level pembacaan situasi global (sit-glob), situasi nasional (sit-nas) maupun situsasi lokal (sit-lok). Maka perbincangan kita akan kita dekatkan dengan pembacaan atas “struktur penindasan” dan “situasi kemasyarakatan” yang ada di dalamnya, yang akhirnya nanti bisa kita jadikan landasan untuk membuat “situasi perlawanan”.




VII.2 Pembacaaan atas Situasi Penindasan dan Kemasyarakatan




Arus utama dalam pembacaan atas situasi penindasan tidak akan bisa dilepaskan dari sebuah era yang dikenal dengan era “globalisasi”. Karena di era inilah, sekarang kita hidup dan menghadapinya dengan segala ketidakpastian. Ilmuwan yang mengkaitakan globalisasi dengan situasi penindasan adalah Deepak Nyyar (1998) yang mengatakan bahwa fase globalisasi dibagi menjadi dua, Pertama, fase imperialisme Inggris yang terjadi pada range 1870 – 1913 yang memakai payung ideologi kapitalisme klasik dengan doktrin yang terkenal dari Adam Smith “leizzis faire” (pasar yang sebebas-bebasnya, tanpa campur tangan negara). Kemudian fase kedua, adalah dekade 70-80an ketika roda perekonomian bergerak ke Amerika Serikat yang mendorongkan semangat yang hampir sama dengan fase sebelumnya di bawah ideologi neo-liberalisme. Mengamini pendapat di atas, James Petras (2001) mengatakan bahwa di dalam globalisasi yang menjadi slogan Barat, sesungguhnya terdapat semangat dan kepentingan imperialisme dengan agenda penguasaan dalam arti yang sangat luas, baik dalam arti material (SDA) maupun mental (SDM) atas dunia ketiga.


Dengan berpijak pada tiga doktrin, yakni Librealisasi (kebebasan dalam arti ekonomik), deregulasi (tidak ada peraturan negara yang mengatur arus lintas barang/jasa dan tidak ada subsidi bagi rakyat) dan privatisasi (BUMN harus dijual pada swasta/pemodal), neoliberaslisme berjalan melewati setiap negara yang sudah tidak berdaya karena lilitan hutang Luar Negri (HLN) . Dengan tekanan HLN, inilah para negara donor-kapitalis (Uni Eropa, USA dan Jepang) membuat peraturan-peraturan yang dipaksakan bagi negara dunia ketiga untuk meliberalisasi kehidupan ekonominya. Lembaga seperti International Monetary Fund (IMF), Paris Club, CGI dan WTO menjadi sangat efektif dalam melakukan kerja-kerja imperialisme dengan baju globalisasi. Setelah penghambat (peraturan Bea dan Cukai dll) bagi perdagangan bebas sudah bisa dikendalikan, perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki negara kapitalis yang sering disebut dengan Trans-National Corporation (TNC) dan Multi-National Corporation (MNC) mulai menancapkan kukunya di negeri pertiwi. Pada saat inilah, budaya lokal dan aset kekayaan alam lainnya akan disedot habis oleh para investor asing, dan akhirnya kita jadi terasing di negeri sendiri. Dan yang lebih parah, kita menjadi budak di negeri sendiri dengan upah yang sangat rendah.


Dalam relasi penindasan yang demikian, masyarakat kita sebagian besar tersituasikan pada posisi yang semakin hari semakin memprihatinkan. Petani tidak bisa menjual gabah dan padinya dengan harga yang tinggi karena kalah bersaing dengan padi dari luar. Hal yang sama kita jumpai pada komoditas gula, buah-buahan dan barang keseharian lainnya. Dalam kondisi itu negara sudah tidak berdaya lagi karena tekanan dari Lembaga Donor untuk tidak memberikan subsidi pada rakyat. Kenaikan BBM, Listrik dan telepon adalah imbas dari pemotongan subsidi demi pembayaran hutang. Demikian juga kenaikan biaya pendidikan juga bisa dilihat dari perspektif ini. UU no 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS adalah gambaran dari gelagat negara yang ingin melepas tanggungjawabnya atas subsidi pendidikan, sehingga membuka peluang terjadinya komersialisasi dan kapitalisasi pendidikan. Persoalan bertambah runyam ketika fondasi perekonomian kita semakin lemah dan berimbas pada sektor tenaga kerja yang semakin kehilangan lapangan pekerjaan.


Dalam konteks semakin cepatnya laju dan arus globalisasi, kita malah secara politik masih sibuk dengan pertarungan kepentingan kelompok-kelompk elit yang sebagin besar tidak memihak rakyat. Pertarungan elit, baik di level eksekutif, Legislatif maupun partai yang kadang di antaranya melibatkan kekuatan militer, akhirnya berimbas pada kehidupan sosial politik masyarakat yang terpecah belah. Separatisme, konflik berbasis SARA adalah beberapa contoh yang bisa disebutkan, sebagai imbas dari amburadulnya budaya politik di level negara. Di sisi budaya kita sedang digiring untuk menjadi orang yang tercerabut dari akar sejarah dan budayanya. Kita semakin bangga kalau kita semakin Barat dan bisa meniru mereka pada sisi kehidupan yang sekecil-kecilnya. Kita tidak sadar sedang didorong untuk menjadi orang konsumeris untuk menjadi pelanggan dari pasar yang dibuka oleh orang barat. Watak ini dalam sejarah bangsa kita sering diosebut dengan watak inlander. (Gus Iim ; 2001).


Dampak lain dari globalisai, adalah semakin mengentalnya paham-paham keagamaan yang akhirnya melahirkan gerakan-gerakan fundamentalisme agama. Islam adalah agama yang sering menjadi sorotan dalam kaitannya dengan fenomena ini, terutama dengan kerja-kerja terorisme yang semakin hari semakin merebak. Peristiwa 11 September (black tuesday), Bom Bali, Bom J.W Marriot semakin meyakinkan asumsi bahwa fundamentalisme agama sebagai sebuah resistensi terhadap globalisasi yang sangat West-biased (bias Barat); atau bisa dikatakan fundemantalisme pasar sedang berhadapan dengan fundamentalisme keagamaan (Islam).


Walaupun gerakan fundamentalisme Islam melawan kekuatan kapitalisme Barat, akan tetapi dalam konteks nalar sosial-keagamaannya, pemahaman tekstual (skripturalistik) terhadap ajaran dan doktrin agama sangatlah kental. Ruang-ruang ekspresi kontekstual menjadi semakin sempit, dan ajaran akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang sangat kaku dan baku, karena pluralitas tidak menjadi bagian dalam kesadaran tafsir mereka. Sehingga gerakan fundamentalis Islam cenderung gampang mengkafirkan dan menggunakan kekerasan terhadap orang yang tidak satu pendapat dengannya dan menggolongkannya sebagai “the other”.


Dari sekian pembacaan atas situasi penindasan dan situasi kemasyarakatan di atas, kita mencoba membuat sebuah pola umum untuk memudahkan membuat sebuah strategi perlawanan dan situasi-situasi apa saja yang harus dibuat. Untuk ini, perlu melihat tulisan Eman Hermawan (2001) yang membagi masyarakat dalam 3 lokus, yaitu : Civil Society (masyarakat sipil: Ormas, LSM, Gerakan mahasiswa, kelompok-kelompok masyarakat lain), Political Society (Masyarakat Politik: negara, partai politik) dan Economical Society (masyarakat ekonomi: Pengusaha Pribumi, Investor, Spekulan, MNC/TNC). Dalam kerangka 3 lokus masyarakat inilah strategi dan taktik gerakan PMII akan dijelaskan dengan tetap memakai kerangka liberasi dan independensi, dengan mendorongkan Free Market of Ideas (FMI) dan menggunakan paradigma yang kritis dan transformatif.




LOKUS MASYARAKAT

STRATEGI GERAKAN

Civil Society

Konteks Kesadaran

¯ Kritis – transformatif

¯ Pluralisme dan berwawasan kebangsaan

¯ Sadar akan bahaya budaya konsumerisme

¯ Kearifan lokalitas dan tradisi

¯ Mengikis budaya patriarkhi yang menyebabkan ketimpangan gender

Konteks Gerakan

¯ Membuat kantong-kantong kritis dengan diskusi kerakyatan

¯ Live In dalam kerangka advokasi dan pendampingan

¯ Membuat ruang-ruang perekonomian rakyat

¯ Memperkuat bergaining politik terhadap masy. politik

¯ Kesenian dan budaya sebagai perlawanan

¯ Aksi massa dalam rangka injeksi kesadaran massa rakyat dan mendesakkan perubahan kebijakan publik


Masyarakat Politik

Negara

¯ Penguatan posisi negara terhadap tekanan pasar dan negara kapitalis dengan regulasi

¯ penegakan supremasi hukum dan pemberantasan KKN

¯ Kemampuan negara untuk mengolah ruang publik menjadi lebih terbuka dan transparan

¯ Penguatan sektor ekonomi untuk tenaga kerja

¯ Legislatif yang peka dan aspiratif

Par-pol

¯ Menolak elitisme par-pol

¯ Membuat ruang bargaining politik dengan parpol

¯ Menolak partai yang berselingkuh dengan modal

¯ Menolak penggunaan aset negara untuk kepentinga partai tertentu

Masyarakat Ekonomi

¯ Pengusaha dan pemodal pribumi yang berpihak pada rakyat

¯ Menciptakan pasar yang berkeadilan dengan tetap ada peraturan bersama (governance)/ doktrin ekonomi ke- Indonesiaan

¯ Membiarkan serikat buruh berdiri sebagai kontrol dan dialektika


Strategi yang masih merupakan pola umum dalam konteks perlawanan, harus diterjemahkan dan dikerucutkan dalam kerja-kerja taktis. Antono Gramsci (1956) membagi 3 wilayah taktik gerakan atau perang (war), yakni : war of position (perang posisi), war of opinion (perang opini) dan war of movement (perang gerakan). ketiga wilayah pergerakan ini menjadi landasan awal untuk membingkai stratak gerakan PMII saat ini.


Konteks pergerakan, minimal dari pelajaran Gramsci di atas, haruslah memenuhi 3 ruang, yaitu ruang penegasan jati diri organ atau posisi sikap sejarah terhadap situasi yang sedang berlangsung, ruang dialektika pemikiran dan gagasan sebagai dasar rasionalitas atas posisi yang dipilih dan ruang praksis yang menjadi indikator perubahan dengan sebuah dorongan konkret baik di level massa kader, maupun massa rakyat.


Secara jelas derivasi taktik dari masing-masing ruang dijelaskan dalam bagan sebagai berikut:


WAR OF POSITION

WAR OF OPINION

WAR OF MOVEMENT

Nilai Dasar Pergerakan


Aswaja


Paradigma Kritis Transformatif


Liberasi, Independensi dan Empowering

Tradisionalisme Kritis

A. Konteks Gagasan

· Tentang masyarakat

· Tentang pasar

· Tentang Negara

B.      Konteks Manajemen Issu

· Basis media

· Basis intelektual kader

· Basis massa (diseminasi gagasan di level masyarakat)

A. Kaderisasi

· Formal

· Non-formal: (Kantong-kantong kader : diskusi, jalanan, organisasi, kesenian dll)

· Informal

B. Pengorganisiran

· Level kampus (antropologi kampus)

· Level organ gerakan

· Level basis massa rakyat

C. Desakan ke otoritas

· Kebijakan publik

· Kuasa sosial-ekonomi

· Kuasa agama


Bagaimanapun gerakan harus dipraksiskan. Seandainya basis massa belum diraih, maka tidak ada alasan untuk diam. Aksi massa harus segencar mungkin dilancarkan untuk mendorongkan semangat perubahan, sekaligus menjadi momentum untuk memberi injeksi kesadaran bagi massa rakyat. Yang harus diperhatiakan dalam aksi massa adalah perangkat aksi dan perlengkapan aksi. Perangkat Aksi/Panitia Aksi:


1.    Lunak : Issu dan tujuan dari aksi massa.


2.    Keras, meliputi kepanitiaan lapangan:


a.    Kordinator Umum (kordum) sebagai penanggungjawb aksi dan pembaca statemen atau pernyataan sikap


b.    Kordinator lapangan (korlap) yang mengatur jalannya massa aksi


c.    Tim materi yang membuat pernyataan sikap, selebaran dan press release


d.   Negosiator untuk melobi aparat, atau segala hal yang ditemui di lapangan


e.    Kurir untuk melihat kondisi di depan, belakang dan samping barisan.


f.     Keamanan / security:


-  Ring dalam untuk mengatur masa aksi


-  Ring luar untuk menjaga massa dari serangan dari luar


g.    Logistik atau konsumsi


h.    Tim Evakuasi yang akan menentukan titik evakuasi kalau ada seranga, dan siap dengan kerja evakuasi atau pengamanan


i.      Tim advokasi untuk mengantisipasi persoalan sampai tingkat persidangan, dengan menghubungi LBH-LBH terdekat


j.      Happening Art


k.    Perlatan dan perlengkapan (perkap) aksi


l.      Megaphone atau pengeras suara


m.  Spanduk


n.    Poster


o.    Bendera organ


p.    Tali Rafia (garis demokrasi/revolusi)


q.    Tanda pengenal atau slayer untuk identitas massa aksi


r.     Selebaran, pernyataan sikap dan press release


s.     Transport dan HP/HT untuk kurir dan keamanan




VII.3 Pengorganisiran dan Mobilisasi Massa


Berdasarkan Situasi Nasional


Mengorganisir, memobilisasi, menggerakan dan memimpin perlawanan mereka (baik dalam satu isu khusus/lokal :kampung, pabrik, desa, kampus hingga isu umum sektoral bahkan isu umum yang lintas sektor).

Membentuk wadah-wadah perlawanan massa permanen.Wadah-wadah permanen ini bila berhasil dijaga dan terus diperbesar akan menjadi kekuatan pelopor kita untuk menggerakan massa secara lebih besar lagi.

Mempercepat pengkaderan (rekruitment).

Ketiga proses diatas dilakukan secara bersamaan. Sambil kita mengagitasi dan membuat struktur perlawanan.


1.    Prinsip pengorganisiran:


a.    Agitasi/Propaganda/Kampanye.


Keberhasilan sebuah aksi yang besar dan direncanakan akan sangat tergantung (apalagi bagi organisasi yang masih kecil) dari keberhasilan kerja-kerja agitasi/propaganda/kampanye yang didasarkan pada tuntutan umum massa yang tidak mau dipenuhi oleh pemerintah (lain halnya dengan aksi massa besar yang spontan akibat ledakan, yang tidak mungkin diperkirakan). Keberhasilan dari kerja-kerja ini terlihat dari:


-   Terbangunya atmosfer isu-isu atau tuntutan-tuntutan yang dipropagandakan.


-   Kesiapan (dukungan) massa secara luas untuk terlibat dalam rencana aksi (termasuk menarik aliansi/sekutu/kelompok).


-   Kesiapan subjektif organisasi memimpin aksi ini.


-   Reaksi pemerintah.


-   Bila aksinya terbuka) maka tanggal aksi (serta tempat aksi) juga menjadi populer di massa.


Semua alat-alat propaganda harus selalu dihubungkan dengan perluasaan propaganda isu yang kita pergunakan untuk aksi. Jadi setelah disepakati isunya, maka semua terbitan, poster, statement, diskusi, seminar, selebaran, grafity action (corat-coret) harus dihubungkan dengan hal diatas.


2.    Pengorganisiran


            Kerja-kerja propaganda dan agitasi harus juga sejalan dengan pengorganisiran massa guna persiapan aksi tersebut. Artinya seluruh pengorganisiran massa harus dipergunakan “nantinya” untuk kekuatan aksi yang kita selenggarakan.


            Secara umum “organisir”aksi ini harus terwujud secara massal. Dari mulai mengkonsolidasikan basis kita yang sudah terorganisir hingga perluasaanya. Ini harus menjadi tugas pekerjaan/pengorganisiran bukan saja bagi kader melainkan setiap massa yang terlibat aktif dalam rencana aksi. Sejak awal pengorganisiran harus terbangun jaringan agen/koordinator pengorganisiran (yang akan diperbaiki dalam setiap perkembangan pengorganisiran). Secara ekstrem dapat dikatakan “setiap hari” harus ada tambahan jumlah massa yang bisa diajak aktif untuk acara ini (menjadi organiser). “Setiap hari” harus ada tambahan kontak baru yang mau mengkonsolidasikan tempatnya (tempat tinggal/kerja) untuk diajak ikut rencana aksi ini. “Setiap hari” harus ada kontak perluasaan daerah basis yang bisa diajak dan aktif membangun kekuatan dibasis daerahnya.


a.       Jumlah basis (yang diorganisir dan perluasan/kontak), semua laporan perkota dan basis diatas)dilaporkan kembali.


b.      Laporan kekuatan massa pelopor untuk memimpin/mendorong massa dalam kota/basis terlibat dalam aksi.


c.       Laporan distribusi selebaran, poster dan corat-coret dan distribusinya.


d.      Kesimpulan dari respon/tanggapan/usulan massa di seluruh basis yang diorganisir dan massa umum kaum buruh maupun non buruh.


e.       Respon penguasa, penduduk setempat, aparat dan pemerintah.


f.       Evaluasi pengorganisiran


g.      Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya.


h.      Rencana kedepan (hingga pertemuan wilayah).


3.    Rapat Umum (semua koordinator dari seluruh tingkatan)


Menjelang hari H akan ada pertemuan besar (seluruh koordinator hingga koordinator terkecil untuk cek kesiapan massa).


4.    Taktik Strategi Atas:


Pada saat ini sangat mungkin untuk mempergunakan strategi atas untuk mendukung dan memaksimalkan kerja-kerja dibawah. Yang dimaksud strategi atas disini bukan saja persoalan kampanye (seperti dalam bentuk seminar terbuka) melainkan melakukan seruan aksi nasional terbuka jauh-jauh hari. Kita tidak akan melakukan ini jika tidak terlihat kesiapan hasil kerja sahabat-sahabat di pengorganisiran. Setelah dilihat kesiapan untuk melakukan mobilisasi umum nasional/wilayah, maka pimpinan pusat/wilayah akan mengeluarkan seruan terbuka tentang aksi itu. Ini dilakukan juga paling cepat satu bulan sebelum aksi dilakukan. Setelah ini harus dilakukan dukungan dari daerah-daerah baik berupa konferensi pers maupun aksi agar terlihat kebesaran dari rencana aksi nasional. Dukungan juga harus datang dari organisasi lain : Mahasiswa, LBH, LSM hingga partai-partai dan tokoh-tokoh. Adanya tanggapan dari pemerintah biasanya akan justru mendorong kampanye kita (memperluas atmosfer agitasi propaganda kita). Kerja-kerja pengorganisiran di bawah dapat lebih terdorong lagi. Walaupun kemungkinan represif dan kontra aksi akan dilakukan aparat keamanan, pengusaha dan pemerintah. Lain-Lain : Seminar, talk show dll.


VII.4 Aliansi / Front


            Kesiapan kita untuk melakukan mobilisasi massa umum harus dilakukan sesuai dengan target kita. Cara-cara yang dipergunakan dalam aliansi/front harus diusahakan semua tuntutan, program dan taktik kita dapat diterima. Melihat watak kelompok-kelompok massa yang ada. Aliansi/front akan sangat mungkin terbentuk/terdorong jika kita berhasil melakukan pra kondisi. Dengan cara mempelopori pra kondisi kita juga dapat memimpin.


Aksi Pra Kondisi :


            Aksi pra kondisi yang dilakukan dimaksudkan untuk melihat tingkat konsolidasi dan persiapan massa sebelum aksi. Aksi yang terpenting adalah aksi rally, demo, rapat akbar di satu kawasan/kota. Jadi aksinya di basis massa. Ini dimaksudkan untuk memaksimalkan kerja propaganda dan mencek tingkat dukungan massa dan latihan bagi mobilisasi pada hari H nantinya. Sebelum aksi ini dilakukan terlebih dahulu dilakukan kampanye baik dalam strategi bawah (pengorganisiran, selebaran) maupun strategi atas : Konferensi pers atau kalau perlu ada aksi awal dengan mengadakan aksi mendatangi DPR, Depnaker dll.


Catatan tentang front : Bila front berhasil terbentuk maka kegiatan yang dilakukan dapat dilakukan atas nama front termasuk siapa yang menyerukan aksi (nasional) dan dukungan daerah. Tetapi yang harus diingat kita tetap harus menjalankan program kita dan independen terhadap taktik kita bila front tidak menyetujui ini menjadi keputusan mengikat.


            Seluruh kerja diatas harus dapat dikontrol secara penuh oleh partai. Kontrol disini bukan saja dimaksudkan untuk menerima laporan kerja sahabat-sahabat melainkan juga memberikan arahan secara regular dan konsisten dan membantu pekerjaan ini secara sistematis. Semua kerja-kerja di pengorganisiran (pabrik, kota, wilayah) harus dilaporkan secara rutin hingga kepusat. Hingga jauh-jauh hari sebelum hari H sudah bisa dilihat kesiapan dan kemungkinan keberhasilan aksi tersebut.


            Semua tindakan kerja-kerja pengorganisiran (dalam setiap pertemuan dan diskusi massa) dilakukan dalam satu gerak yang sama yaitu:


Agitasi dan propaganda : agitasi isu, propaganda untuk bersatu, tuntut ke pemerintah.

Kondisi basis (tempat kerja/tinggal) dan massa (untuk menetapkan taktik pengorganisiran) : jumlah massa, geopolitik basis, isu/tuntutan/persoalan basis.

Pertemuan berikut di basis-basis yang lebih kecil.

Pemilihan koordinator sementara.

Ada absensi.

Seruan untuk mengajak kontak dalam pertemuan massa berikut.

Kerjaan ini terus dilakukan berulang-ulang di setiap basis baru hingga menjelang hari H.


Catatan: Bila satu basis telah terkonsolidasi maka pertemuan pertemuan massa di basis dapat dihentikan dan digantikan hanya dengan tugas penyebaran bacaan dan mencari kontak di tempat lain. Tetapi pertemuan seluruh koordinator dalam satu basis tetap dilakukan.




A.  Pertemuan koordinator dibasis yang paling kecil: pabrik/kampung/desa/kampus:


Laporan (ditulis) :


Jumlah kumpulan (sesuai dengan struktur mobilisasi), berapa massa yang hadir dalam kumpulan (dari absensi). Dari kumpulan yang ada berapa % kemampuan untuk memobilisasi massa di basis tersebut.

Jumlah selebaran/poster yang didistribusikan dan corat-coret yang dilakukan.

Respon/tanggapan/usulan massa dan respon penguasa

Kontak massa lain yang ikut kumpulan.

Rencana pengorganisiran berikut/perluasan.

Evaluasi pengorganisran

Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya

Rencana ke depan (hingga pertemuan kota/wilayah terdekat).

Lain-lain

          

B.       Pertemuan kota/wilayah (pertemuan koordinator-koordinator basis terkecil):


Laporan Per kota (ditulis) :


· Geo-politik : jumlah massa, pengalaman revolusioner massa kota , peta geo-politik kota, lokasi kekuatan massa yang telah terorganisir, lokasi-lokasi basis strategi (sasaran pengorganisiran), kondisi masyarakat setempat, aparat, rute-rute jalan, transportasi dll.


· Jumlah basis (yang diorganisir dan perluasan/kontak): semua laporan basis terkecil dilaporkan kembali.


· Laporan kekuatan massa kepeloporan untuk memimpin/mendorong seluruh massa dalam satu “kota/lokasi” terlibat.


· Laporan distribusi selebaran, poster dan corat-coret dan distribusinya.


· Kesimpulan dari respon/tanggapan/usulan massa di seluruh basis yang diorganisir dan massa umum.


· Respon massa setempat dan aparat.


· Evaluasi pengorganisiran.


· Evaluasi struktur koordinator/agen/mobilisasi hingga perubahannya.


· Rencana ke depan (hingga pertemuan wilayah)


C.     Pertemuan wilayah (pertemuan koordinator kota yang bisa diperluas melibatkan koordintor basis).


Laporan wilayah (ditulis) :


· Geo politik wilayah : jumlah massa, pengalaman revolusioner massa wilyah, peta geo-politik wilayah, lokasi kekuatan kota-kota yang di organisir, lokasi-lokasi kota strategis (sasaran pengorganisiran), kondisi masyarakat setempat, penguasa, aparat, rute-rute jalan, transportasi, dll.


· Jumlah kota yang menjadi basis.


VII.5 Bentuk-bentuk Agitasi


1.    Agitasi-Propaganda tertulis


a.         Agitasi dan propaganda terbuka/umum/massal. Untuk aksi wilayah maka agitasi lewat poster biasanya sangat efektif untuk mensosialisasikan tuntutan-tuntutan kita, untuk membangkitkan atmosfer perlawanan disana. Apalagi ketika basis kita di wilayah tersebut masih lemah. Penempelan poster harus ditempelkan di tempat-tempat strategis yaitu tempat berkumpul massa.


b.        Agitasi lewat selebaran. Tanpa selebaran tidak mungkin ribuan, puluhan ribu massa dapat kita organisir. Karena tidak mungkin kita mengumpulkan ribuan massa dan membicarakan hal ini, disamping tidak aman juga tidak ada tempat. Selebaran ini sifatnya bukan saja sebagai alat untuk agitasi dan propaganda melainkan lewat selebaran ini struktur agen-agen mobilisasi dibentuk/dibangun. Lewat selebaran ini massa dapat digerakan secara terorganisir, patuh dan disiplin terhadap seluruh keputusan taktik-taktik yang kita buat. Massa akhirnya bisa dipimpin lewat selebaran. Biasanya setelah selebaran kedua maka massa akan mengerti bahwa ia akan dipimpin oleh selebaran. Jadi pada dasarnya agen selebaran adalah juga agen mobilisasi sama dengan struktur mobilisasi kita. Selebaran juga berfungsi untuk keamanan rencana aksi. Lewat selebaran maka pertemuan-pertemuan massa dapat diperkecil. Hanya agen-agen misalnya.


Catatan: Selebaran tidak hanya dipergunakan pada pra aksi melainkan juga pada pasca aksi hari pertama atau untuk menggerakan aksi kembali, memperluas aksi dll. Di tempat-tempat di distribusikannya selebaran atau poster penting untuk dikirimkan sahabat ke lokasi ini. Tujuannya untuk mengagitasi dan selanjutnya mendapatkan kontak untuk diorganisir.


2.        Agitasi-Propaganda Oral

a.       Agitasi dan Propaganda lewat pertemuan/kumpulan

Ini suatu tindakan yang penting adalah untuk meyakinkan massa dan mengaktifkan mereka dalam rencana kita. Karena biasanya ada persoalan-persoalan ataupun pertanyaan dari massa akan suatu hal yang tidak ia dimengerti. Artinya agitasi dan propaganda kita lewat selebaran harus juga dibarengi dengan agitasi-propaganda lewat pertemuan. Lewat pertemuan kita bisa menjelaskan tuntutan kita lebih panjang dan bisa diterima massa.

b.      Agitasi dari rumah ke rumah

Agitasi –propaganda ini berfungsi untuk mengajak kontak untuk diyakinkan dan dapat ikut serta dalam pertemuan yang kita lakukan. Biasanya ini dipergunakan pada tahap awal pengorganisiran atau ketika ada perluasan ke basis lain dan sifatnya masih kontak.



Sumber: https://pmiikabbekasi.blogspot.com/2016/06/materi-pkd-rencana-strategi-dan.html

MANAJEMEN KONFLIK DALAM ORGANISASI

dalam dunia kerja, konflik tentu bisa terjadi. Entah itu karena masalah personal, persaingan kerja, kompetisi tidak sehat, masalah dengan atasan dan lain – lain bisa saja terjadi. Tergantung pekerjaan Anda, konflik ini juga bisa berbentuk berbeda.


Setiap konflik bisa jadi kasus yang unik karena pengaruh banyak faktor, walaupun begitu hal ini tidak bisa dibiarkan. Kasus konflik yang terlihat simple bisa jadi masalah besar jika dibiarkan. Untuk mencegah hal ini menjadi makin parah, mari bahas bersama bentuk konflik dunia kerja yang sering terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.


 Konflik adalah ketidaksesuaian, perselisihan, pertentangan, atau adanya posisi yang bersebrangan antara satu pihak dengan pihak lainnya, baik antar individu maupun antar kelompok.


terdapat empat konflik yaitu konflik vertikal, konflik horizontal, konflik garis-staf, konflik peranan.


1)      Konflik vertikal


Konflik ini terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang berbeda dalam organisasi, misalnya konflik yang terjadi antara bawahan dan atasan.


2)      Konflik horizontal


Konflik ini terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya konflik yang terjadi antara karyawan atau antar departemen yang setingkat.


3)      Konflik lini-staf


Konflik ini terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.


4)       Konflik peranan


Konflik ini terjadi karena seorang individu mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan.


 


Sumber Penyebab Konflik


 Perbedaan tujuan

Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu menetapkan tujuan dengan tepat, sehingga setiap anggota organisasi akan mengetahui kemana arah oraganisasi tersebut. Namun dalam kenyataannya, terkadang sering terjadi perbedaan antara individu maupun kelompok dalam menafsirkan tujuan organisasi menjadi tujuan bagian/departement. Sehingga seolah-olah atau memang masing-masing bagian mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Jika tidak dikoordinasikan dengan baik, maka akan menimbulkan konflik, baik antar individu maupun antar kelompok.


Kelangkaan sumber daya

Organisasi tidaklah dibangun dengan sumber daya yang tidak terbatas (unlimited). Organisasi justru terbentuk dengan segala keterbatasan ataupun kelangkaan yang dimiliki, yang kemudian dikelola dengan baik dan dialokasiakan sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pengalokasian sumber daya tersebut terkadang tidak sama atau ada prioritas dalam penggunaanya. Sehingga satu bagian mungkin menerima lebih sedikit dari bagian lain atau menerima pada waktu yang lebih lama dibandingkan dengan bagian lain. Perbedaan jumlah waktu ataupun alokasi yang diakibatkan oleh kelangkaan ini dapat mengakibatkan timbulnya konflik.


  Saling ketergantungan dalam menjalankan pekerjaan

Dalam suatu organisasi adalah wajar apabila banyak yang saling terlibat ataupun berhubungan, hal ini dapat menjadikan saling ketergantungan antara satu pihak terhadap pihak lain. Kondisi seperti ini juga dapat menimbulkan konflik jika salah satu pihak tidak mampu menyelesaikan tugasnya tepat waktu .


Perbedaan dalam sikap dan perilaku

Perbedaan sikap berkaitan dengan bagaimana individu atau kelompok bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perbedaan antara sikap dan perilaku hati-hati atau terburu-buru akan menimbulkan konsekuensi yang berbeda dalam pencapaian suatu tujuan.


Sebab-sebab lain.

Sebab lain diantaranya gaya bekerja individu, ketidakjelasan dalam batasan pekerjaan, adanya hambatan komunikasi, adanya tekanan dalam pekerjaan (misalnya deadline), standar,pertauran, kebijakan yang tidak masuk akal, perbedaan status, serta harapan yang tidak mampu terwujud dalam sebuah organisasi.


 


      Manajemen Konflik Dalam Organisasi


Konflik tidak hanya terjadi antar individu saja, konflik juga dapat terjadi pada kelompok, organisasi bahkan sampai ke level negara. Untuk itu perlu adanya upaya untuk mendapatkan kesesuaian atau kesepahaman pada pihak yang mengalami konflik. Upaya tersebut disebut dengan pengelolaan konflik atau lebih dikenal dengan istilah “Manajemen Konflik”.(3)


Manajemen Konflik merupakan langkah yang dapat digunakan individu atau kelompok untuk menghadapi pertentangan atau perselisihan yang terjadi di dalam kehidupan. Manajemen konflik menjadi suatu kajian yang penting untuk dipelajari dan dipahami dalam meyelesaikan potensi konflik atau konflik itu sendiri, sehingga menghasilkan kesamaan sudut pandang (perception) dan kepentingan (interest).


Konflik dalam suatu organisasi dapat terjadi karena tersendatnya arus komunikasi antar pihak, yang menimbulkan kecurigaan, atau praduga yang dapat mengarah pada tindakan-tindakan yang merugikan semua pihak dalam organisasi.


 


       Tahapan Manajemen Konflik


1)   Pencegahan konflik


Tahapan ini adalah tahapan yang dilakuakan dalam menata konflik sebelum terjadinya perselisihan atau ketidaksetujuan suatu pihak atas pihak lainnya. Tujuannya adalah untuk mencegah munculnya konflik yang keras antara satu pihak dengan lainnya.


2)   Penyelesaian konflik


Tahapan ini adalah tahapan yang dilakuakan dalam menata konflik ketika pertentangan dan perselisihan telah terjadi. Tujuannya adalah untuk mengakhiri perselisihan, ketidaksetujuan, atau perilaku kekerasan melalui suatu persetujuan persamaan pendapat atau persetujuan untuk mengakhiri suatu kekerasan atau upaya untuk menciptakan perdamaian


3)   Pengelolaan konflik


Tahapan ini adalah tahapan yang dilakukan dalam menata konflik pada saat perselisihan atau pertentangan sulit untuk di damaikan. Tujuannya untuk membatasi meluasnya pertentangan, serta menghindari penggunaan kekerasan dengan mendorong para pihak untuk berprilaku positif terhadap pihak lain.


4)   Resolusi konfik


Tahapan ini adalah tahapan yang dilakukan dalam menata konflik melalui upaya pencariab dan penanganan penyebab utama dari konflik yang terjadi. Tujuannya adalah guna membangun hubungan barau antar individu atau kelompok yang bertentangan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan berkelanjutan antar pihak yang awalnya bersebrangan.


5)   Transformasi konflik


Tahapan ini adalah tahapan yang dilakukan dalam menatakonflik melalui perubahan-perubahan atas kekuatan-kekuatan yang ada di tiap-tiap kelompok. Tujuannya adalah untuk mengatasi sumber konflik, baik sosial maupun politik yang lebih luas dengan mengubah kekuatan negatif menjadi kekuatan positif.


 


        Stategi Penyelesaian Konflik


Konflik dan kehidupan bermasyarat memang sangat erat sehingga tidak dapat dipisahkan disebabkan keduanya itu sejajar atau sama. Contohnya karena perbedaan status, budaya, agama dan keterbatasan sumber daya itu adalah factor-faktor yang dapat menyebabkan konflik. Oleh sebab itu maka dibutuhkan strategi penyelesaian konflik. Terdapat 5 strategi umum yang dapat menyelesaikan konflik yaitu ada penghindaran, akomodasi, kompetinsi, kompromi dan kolaborasi.


·         Penghindaran : Staregi ini dikenal dengan sebutan kura-kura, mengapa demikian karena liat saja kura-kura yang selalu menarik diri berlindung ditempurungnya ketika dihadapkan dalam suatu masalah. Strategi ini biasanya digunakan disituasi dimana akan kerjadi kerusakan atau kerugian yang besar.


·         Akomodasi : Strategi ini dikenal dengan sebutan gaya rusa deer style disini kepentingan pribadi menjadi tidak penting serta menjaga kerukunan. Strategi ini dilakukan dengan memberikan kepercayaan melakukan kerjasama atau membiarkan pihak lain menemukan langkah-langkah penyelesaian masalah.


·         Kompetisi : Strategi ini dikenal dengan gaya ikan hiu shark stile dimana satu pihak dinilai memiliki banyak informasi dan berada dalam posisi yang lebih baik, walaupun strategi ini dapat menimbulkan konflik berikutnya namun tidak ada salahnya untuk di coba.


·         Kompromi : Strategi ini dikenal dengan gaya rubah fox style strategi ini dilakukan dengan saling member dan menerima atau member dan menawarkan. Solusi konflik secara bersamaan dan menguntungkan bagi semua pihak.


·         Kolaborasi atau Integrasi : Srategi ini dikenal dengan gaya burung hantu owl style dilakukan dengan menyatukan pikiran dimana pihak yang sedang berkonflik memiliki tujuan yang


         Dari 5 strategi tersebut selanjutnya dapat dilakukan langkah-langkah untuk menangani konflik yaitu dengan :


   Menerima, mendefinisikan dan merumuskan pokok masalah dengan jelas.

Mengumpulkan keterangan dan fakta namun harus terhindar dari tercampurnya opini atau pendapat.

Menganalisis dan memutuskan untuk pengambilan keputusan.

Memberikan jawaban, pihak manajemen memberitahukan kepada pihak karyawan agar tidak menjadi keputusan satu pihak.

Tindak lanjut dari keputusan yang telah diambil langkah ini diperlukan untuk mengawasi akibat dari keputusan yang telah dipakai.

 


Perundingan merupakan sebuah proses dimana dua belah pihak atau lebih saling bertukar barang atau jasa dan mencoba menyepakati jalan tengah perihal konflik yang terjadi. Perundingan dilakukan agar dapat memenuhi kepentingan bersama dan menetapkan penyelesaian yang paling memuaskan semua pihak.


Para perunding juga diharuskan mengetahui berbagai gaya (style) dalam berunding. Terdapat sembilan gaya dalam melakukan perundingan,yaitu : pencarian ,empati ,mencari tema bersama ,menghasilkan alternatif,menganggapi berbagai alternatif,mencari penyelesaian,membuka jalan buntu, mengikat diri kepada penyelesaian didalam kelompol,dan mengikat seluruh kelompok.


Pencarian , gaya ini dilakukan melalui dialog untuk mendapat suatu pngertian antar pihak ,serta mendorong terjadinya keterbukaan antara pihak-pihak yang terlibat.

Empati , gaya ini dilakukan dengan mengamati kondisi dab kecemasan orang lain ,yang bermaksud untuk mendapatkan pengertian baru dan informasi mengenai orang lain. Cara ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan satu pihak dengan pihak lain tanpa konflik.

Mencari teman bersama, gaya ini dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat dengan cara mencari tujuan bersama-sama. Diharapkan dengan adanya tujuan dan presepsi yang sama akan mendapatkan hasil kesepakatan.

Menghasilakan alternatif, cara ini dilakukan dengan jalan mencari alternatif sosial untuk mmenyelesaikan persoalan yang diperselisihkan. Alternatif penyelesaian ini digunakan untuk menghadapi beberapa situasi dan kondisi yang mungkin terjadi selama konflik.

Menganggapi berbagai alternatif, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik mempelajari dan memberikan tanggapan terhadap alternatif-alternatif penyelesain. Dengan dimaksudkan agar tidak ada keinginan dari sebelah pihak saja.

Mencari penyelesain, kesepakatan antar pihak yang terlibat dalam menetapkan penyelesain terhadap sejumlah alternatif yang sudah dipelajari secara mendalam.

Membuka jalan buntu, pihak ketiga yang objektif dan berpengalaman dapat diikutsertaan untuk menyelesaikan masalah jika kespakatan antar kedua belah pihak mengalami jalan buntu.

Mengikat diri kepada penyelessaian didalam kelompok, pihak-pihak yang terlibat dapat memperdebatkan dan mempertimbangkan penyelesaian dan mengikatkan diri pada penyelesaian itu setelah dihasilkan penyelesaian yang disepakati.

Mengikat/seluruh kelompok, tetap terakhir dari langkah penyelesaian konflik adalah dengan penerimaan atas suatu penyelesaian dari pihak-pihak yang terlibat konflik, serta adanya tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat untuk konsekuen tershadap kesepakatan.

   Konflik dapat terjadi pada siapapun maupun organisasi manapun. Untuk  itulah baik individu, kelompok, maupun antar organisasi kita harus mampu mengelola konflik yang terdapat dalam organisasi sacara baik agar tujuan organisasi dapat tercapai tanpa hambatan-hambatan yang menciptakan terjadinya konflik.


Terdapat banyak cara dalam penanganan suatu konflik, manajer maupun pimpinan harus mampu mendiagnosa konflik yang terjadi agar konflik yang terjadi bisa diselesaikan dengan pengolahan atau proses yang baik ataupun cocok dengan konflik yang terjadi dalam organisasi.


Sumber: https://dinsospmd.babelprov.go.id/content/manajemen-konflik-dalam-organisasi 

Manajemen

Manajemen, Pengertian Manajemen, Fungsi, dan Jenis Keilmuan yang Harus Kamu Tahu


Pernahkah kamu merasa tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan sesuatu? Merasa beban tugas atau pekerjaan tetap saja menumpuk meski sudah mendekati deadline? Mungkin salah satu penyebabnya adalah kamu kurang cakap dalam mengatur waktu yang tersedia.


Mengatur waktu yang tersedia, dan mengalokasikannya untuk menyelesaikan tanggung jawab yang kian bertambah memang suatu hal yang penting untuk dilakukan. Tujuannya agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu.


Agar dapat mengerjakan tugas ataupun tanggung jawab secara disiplin, kamu harus memiliki kemampuan manajemen yang baik. Tanpa kemampuan tersebut, bukan tidak mungkin akan merasa kesulitan untuk merampungkan tugas-tugas tersebut.


Karena memiliki fungsi praktikal pada seluruh kegiatan di kehidupan sehari-hari, mempelajari ilmu dasar tentang manajemen bukanlah hal yang sia-sia untuk dilakukan. Oleh karena itu, simak pembahasan tentang ilmu manajemen secara singkat berikut ini, seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Pengertian Manajemen


Manajemen


Pengertian Manajemen


Menerapkan ilmu manajemen dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipraktikkan tanpa mengerti apa itu manajemen. Pengertian ilmu manajemen secara umum wajib dipahami agar dapat diimplementasikan dengan baik.


Secara umum, manajemen adalah suatu proses di mana seseorang dapat mengatur segala sesuatu yang dikerjakan oleh individu atau kelompok. Manajemen perlu dilakukan guna mencapai tujuan atau target dari individu ataupun kelompok tersebut secara kooperatif menggunakan sumber daya yang tersedia.


Dari pengertian tersebut, ilmu manajemen dapat diartikan sebagai kemampuan dalam mengatur sesuatu agar tujuan yang ingin dicapai dapat terpenuhi. Sebetulnya, hal ini sudah sering terjadi di kehidupan nyata. Setiap orang juga pasti pernah mempraktikkan ilmu manajemen secara tidak langsung setiap harinya.


Selain itu, manajemen juga dapat diartikan menurut etimologinya. Manajemen berarti sebagai seni mengatur dan melaksanakan, berdasarkan Bahasa Prancis kuno. Manajemen juga dapat diartikan sebagai usaha perencanaan, koordinasi, serta pengaturan sumber daya yang ada demi mencapai tujuan secara efektif dan efisien.


Dengan menerapkan ilmu manajemen, diharapkan sesuatu yang sedang dikerjakan dapat selesai tepat waktu dan tanpa ada hal yang menjadi sia-sia. Tujuan tercapai karena terorganisir secara baik. 


Pengertian Manajemen Menurut Para Ahli


Manajemen


Manajemen Menurut Para Ahli


Para ahli memandang ilmu manajemen dengan pengertian beragam. Mary Parker Follet, manajemen adalah seni dalam menyelesaikan tugas melalui perantara. Dalam hal ini, manajemen dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang manager untuk mengarahkan bawahan atau orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan demi tercapainya sebuah tujuan. 


Beralih ke George Robert Terry, yang mengartikan manajemen sebagai proses khas dari beberapa tindakan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Seluruh tindakan tersebut bertujuan mencapai target dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia.


Menurut Ricky W. Griffin, manajemen adalah proses perencanaan, organisasi, koordinasi, dan kontrol pada sumber daya agar tujuan tercapai secara efektif dan efisien. Efektif di sini maksudnya tujuan tercapai sesuai rencana, dan efisien berarti bahwa manajemen dilakukan secara cermat, terorganisir, dan tepat waktu.


Berbeda, Lawrence A. Appley mengartikan manajemen sebagai keahlian dalam membangkitkan orang lain agar bersedia melakukan sesuatu. Tak harus seseorang, keahlian manajemen juga dapat dimiliki oleh organisasi maupun kelompok.


Terakhir, Hilman berpendapat bahwa manajemen merupakan fungsi untuk mencapai suatu target melalui perantara, serta melakukan pengawasan. Dengan begitu, tujuan dapat tercapai bersama.


Dari beberapa pendapat para ahli mengenai ilmu manajemen tersebut, pengertian manajemen tidak jauh dari usaha untuk mencapai sebuah tujuan dengan cara mengelola dan mengawasi.


Unsur-unsur Manajemen


Manajemen


Unsur Penting dalam Kegiatan Manajemen


Agar kinerja manajemen dalam kegiatan berbisnis dapat berjalan dengan lancar, ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dengan seksama. Masing-masing unsur saling melengkapi dan harus diposisikan setara. Secara umum, ada 6 unsur pada kegiatan manajemen.


Unsur Manajemen


Keterangan


Manusia


Dalam kegiatan manajemen, sumber daya manusia membuat rencana dan tujuan yang ingin diraih. Untuk itu, tanpa adanya manusia, kegiatan manajemen tidak akan pernah ada.


Uang


Uang menjadi unsur penting dalam kegiatan manajemen karena menjadi perantara utama dalam mencapai tujuan. Biaya operasional dalam sebuah kegiatan manajemen tentu membutuhkan uang agar dapat berjalan baik.


 


Material


Unsur manajemen ini adalah salah satu faktor penting karena kualitas bisnis dipengaruhi oleh kualitas material yang dipilih. Jadi, jika material yang dipilih buruk, tujuan manajemen akan sulit tercapai.


 


Mesin


Mesin merupakan unsur lain yang perlu diperhatikan. Dengan adanya mesin atau teknologi, pekerjaan yang dilakukan oleh sumber daya manusia pasti akan lebih mudah. Tujuan pun dapat tercapai lebih efektif.


 


Metode


Unsur ini memengaruhi kinerja dalam sebuah manajemen. Jika metode yang dibuat berdasarkan target, fasilitas, waktu, uang, dan kegiatan bisnis, kegiatan manajemen pasti akan berjalan lebih lancar. Unsur ini juga perlu mendapat campur tangan manusia agar dapat tercipta dengan baik.


 


Pasar


Unsur ini terbilang krusial karena sebuah bisnis hanya dapat berkembang jika telah dikenal di pasaran. Unsur pasar dipengaruhi oleh unsur material karena barang atau jasa yang laku harus memiliki kualitas baik.


Baca Juga: Manajemen Sumber Daya Manusia Sebagai Upaya Mencapai Target Organisasi


Fungsi-fungsi Manajemen


Asuransi Kesehatan Karyawan Middle

Manajemen


Fungsi Manajemen


Fungsi dasar dari ilmu manajemen yaitu sebagai elemen yang harus ada dalam kegiatan manajemen sebagai acuan dari seseorang yang bertugas sebagai pengelola, atau manajer. Manajer inilah yang bertugas untuk memastikan bahwa tujuan dapat tercapai, dengan membuat perencanaan, koordinasi, dan pengendalian.


Dalam ilmu manajemen, ada 5 fungsi yang saling memengaruhi satu sama lain. Fungsi tersebut, antara lain perencanaan, pengorganisasian, penempatan atau staffing, pengarahan, dan pengawasan. Tanpa adanya salah satu dari fungsi ini bukan tidak mungkin kegiatan manajemen akan berakhir tak sesuai rencana atau tujuan.


Perencanaan adalah hal pertama yang wajib dilakukan seorang manajer. Dengan adanya perencanaan, manajer mengevaluasi segala tindakan, baik yang sudah dilakukan maupun yang belum. Tanpa adanya perencanaan yang matang, tujuan dari kegiatan manajemen tidak akan tercapai.

Setelah itu, jalankan fungsi pengorganisasian. Tujuannya untuk mempermudah proses pengawasan yang dilakukan manajer.

Fungsi penempatan, manajer bertugas untuk menempatkan sumber daya yang tersedia sesuai dengan kebutuhan. Dengan begitu, proses pencapaian tujuan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Fungsi pengarahan sebagai upaya agar perencanaan yang telah dibuat dapat berjalan dengan lancar. Jadi pengarahan perlu dilakukan agar segala sesuatu yang dilakukan dapat berjalan sesuai arahan atau rencana.

Terakhir fungsi pengawasan. Tujuannya agar kegiatan manajemen dapat berlangsung sesuai rencana. Jika tidak berjalan baik, dapat dilangsungkan proses evaluasi.

Jenis Keilmuan Manajemen


Manajemen


Jenis Keilmuan Manajemen


Menjadi sebuah kegiatan penting untuk dilakukan hampir di semua bidang, jenis keilmuan manajemen sangat beraneka ragam. Beberapa jenis keilmuan manajemen adalah manajemen strategi, administrasi, organisasi, pemasaran, produksi, waktu, sumber daya manusia, risiko, dan lain sebagainya. 


Bahkan kegiatan kecil seperti melakukan aktivitas di rumah juga tak jauh dari penerapan ilmu manajemen ini. Jadi, sadar atau tidak, siapapun pasti pernah menerapkan ilmu manajemen dalam hidupnya.


Penerapan Manajemen dalam Kehidupan Sehari-hari

Manajemen


Penerapan Ilmu Manajemen dalam Kehidupan Sehari-hari


Disadari atau tidak, setiap orang pasti melakukan kegiatan manajemen. Setiap kebiasaan yang dilakukan merupakan hasil dari menerapkan ilmu manajemen. Contoh paling sederhana adalah dari cara mengatur keuangan.


Mengelola antara pemasukan dan pengeluaran seimbang. Tidak besar pasak daripada tiang, sehingga akan membebani keuangan. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa setiap hari kamu senantiasa menerapkan ilmu manajemen. Tak melulu soal uang, mengatur waktu juga tak luput dari sentuhan ilmu manajemen di kehidupan sehari-hari. 


Dalam sehari, kamu memiliki waktu selama 24 jam. Dalam kurun waktu tersebut, kamu harus mengalokasikannya untuk kebutuhan istirahat, bekerja, bersantai, dan lain sebagainya. Agar seluruh kegiatan tersebut dapat dilakukan setiap hari, dalam kurun waktu yang terbatas, penerapan ilmu manajemen tentu dilakukan.


Penerapan Ilmu Manajemen dalam Perusahaan

perushaan


Dalam praktiknya, ilmu manajemen berperan penting dalam pengambilan keputusan di dalam perusahaan, termasuk keputusan tentang penggunaan sumber daya, rencana bisnis, pengembangan produk, dan strategi pemasaran. Oleh karena itu, pemahaman yang kuat tentang ilmu manajemen sangat penting bagi manajer perusahaan dan profesional bisnis lainnya untuk dapat mengelola perusahaan secara efektif dan efisien.


Penerapan ilmu manajemen dalam suatu perusahaan dapat dilakukan dalam beberapa langkah, antara lain:


Menetapkan Tujuan dan Strategi Bisnis: Perusahaan harus menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek, serta strategi untuk mencapainya. Ini akan membantu perusahaan mengalokasikan sumber daya secara efisien dan memastikan bahwa semua aktivitas bisnis diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Organisasi: Perusahaan harus mengatur sumber daya manusia, keuangan, dan sumber daya lainnya agar dapat bekerja sama dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Ini termasuk mendefinisikan struktur organisasi, peran dan tanggung jawab, dan mengembangkan sistem dan prosedur yang efektif.

Direction : Perusahaan harus memberikan arahan dan memotivasi karyawan agar bekerja dengan baik sesuai dengan tujuan perusahaan. Ini termasuk memberikan pelatihan dan pengembangan, memberikan umpan balik, dan memberikan insentif dan penghargaan yang sesuai.

Kontrol: Perusahaan harus mengontrol proses bisnis dan mengidentifikasi masalah dan peluang yang muncul dalam perusahaan. Ini termasuk pemantauan kinerja, pengawasan keuangan, dan pemantauan risiko dan kepatuhan.

Evaluasi dan Peningkatan: Perusahaan harus secara teratur mengevaluasi proses bisnis dan hasil yang dicapai, serta melakukan perbaikan dan penyesuaian yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Penerapan ilmu manajemen juga dapat membantu bisnis dalam pengambilan keputusan, manajemen risiko, manajemen keuangan, pengembangan produk dan layanan baru, serta mengembangkan strategi pemasaran yang efektif.


Secara keseluruhan penerapan ilmu manajemen dapat membantu perusahaan mencapai tujuan bisnis yang diinginkan secara efektif dan efisien. Hal ini meningkatkan kinerja perusahaan, meningkatkan reputasi perusahaan, dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada pemangku kepentingan perusahaan.


Sudah Implementasi Ilmu Manajemen?

Ilmu manajemen memang menjadi sebuah bidang keilmuan yang penting di kehidupan manusia. Seluruh aktivitas yang dilakukan oleh manusia pasti ada pengaruh dari penerapan dari ilmu manajemen. Untuk itu, agar dapat mengelola segala sesuatu dengan efektif dan efisien, mempelajari ilmu manajemen bukanlah suatu hal yang merugikan untuk kehidupan.


Sumber: https://www.cermati.com/artikel/manajemen-pengertian-manajemen-fungsi-dan-jenis-keilmuan-yang-harus-kamu-tahu 

Organisasi

 Pengertian Organisasi: Konsep, Karakteristik dan Metafora Organisasi

Pengertian Organisasi? – Kumpulan orang yang ingin mencapai tujuan yang sama pasti akan membuat kelompok atau yang biasa disebut dengan organisasi. Organisasi bisa ditemui di mana saja. Ketika duduk di bangku sekolah, organisasi bukanlah hal yang asing bagi kita.


Contohnya ada organisasi OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) atau organisasi di tingkat universitas seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Jika suatu kelompok memiliki tujuan yang sama dan memenuhi unsur-unsur organisasi, maka sudah bisa disebut organisasi. Untuk memahami lebih lanjut tentang pengertian organisasi, konsep, tujuan dan manfaat organisasi, simak tulisan di bawah ini.



Daftar Isi

Pengertian organisasi

Konsep organisasi

1. Konsep statis

2. Konsep dinamis

Karakteristik organisasi

1. Koordinasi

2. Divisi pekerjaan

3. Tujuan yang sama

4. Hubungan Kooperatif

5. Hubungan otoritas-tanggung jawab yang ditetapkan dengan baik

Metafora Organisasi

1. Organisasi sebagai mesin

2. Organisasi sebagai makhluk hidup atau organisme

3. Organisasi sebagai budaya

4. Organisasi sebagai penjara psikis

Buku-buku Organisasi Internasional

Pengertian organisasi

Organisasi terjadi ketika orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Hal itu bisa terjadi melalui serangkaian kegiatan yang dirancang dengan sengaja, membuat improvisasi atau kombinasi keduanya.


Berikut adalah pengertian organisasi menurut para ahli:


1. C.H. Northcott


Organisasi adalah sebuah pengaturan di mana tugas-tugas diberikan kepada para anggota sehingga mereka berkontribusi secara efektif untuk beberapa tujuan yang lebih jelas.


Tujuan dari organisasi adalah untuk mengkoordinasikan aktivitas dari berbagai individu atau anggota kelompok yang bekerja di dalam organisasi untuk pencapaian tujuan perusahaan.


2. Louis Allen


Organisasi adalah sebuah proses identifikasi dan mengelompokkan pekerjaan yang akan dilakukan dan mengerjakan tanggung jawab dan wewenang serta membangun hubungan untuk sebuah tujuan yang membuat anggota organisasi saling bekerja sama secara efektif dalam mencapai tujuan. Organisasi adalah sebuah instrumen untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.


3. Koontz and O’Donnell


Organisasi adalah pembentukan hubungan otoritas dengan ketentuan untuk koordinasi di antara mereka, baik secara vertikal maupun horizontal dalam struktur perusahaan. Organisasi merupakan titik koordinasi di antara para pebisnis.


4. Spriegel



organisasi mengacu pada hubungan antara berbagai faktor yang ada dalam sebuah usaha tertentu. Dari sudut pandang perusahaan secara keseluruhan, organisasi adalah hubungan struktural antara berbagai faktor dalam perusahaan.



5. Wheeler


Organisasi merupakan struktural tugas atau tanggung jawab yang dikerjakan oleh masing-masing personil dari organisasi. Organisasi adalah proses penetapan tugas dan tanggung jawab orang-orang di suatu kelompok atau perusahaan agar tujuan yang ditentukan dapat tercapai.



6. Oliver Sheldon


Organisasi adalah proses yang menggabungkan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh individu atau kelompok dengan menggunakan fasilitas yang diperlukan dalam pengerjaannya, sehingga tugas atau pekerjaan yang dilakukan memberikan hasil terbaik dan efisien. Organisasi membantu dalam pemanfaatan sumber daya secara efisien dengan membagi tugas ke dalam beberapa orang



7. George Terry


Organisasi adalah pembentukan hubungan otoritas yang efektif di antara pekerjaan, pekerja, dan tempat kerja yang dipilih agar kelompok dapat bekerja sama secara efisien. Organisasi adalah terciptanya hubungan antar manusia dan pekerjaan sehingga dapat dilaksanakan dengan lebih baik dan efisien.



8. L.H Haney


Organisasi adalah sebuah harmonisasi dari bagian-bagian khusus untuk pencapaian beberapa tujuan bersama.



PlayUnmute

Fullscreen

Untuk lebih memahami apa itu organisasi dan apa yang dilakukan di dalamnya, Grameds dapat mempelajari buku Teori Organisasi yang ada dibawah ini yang sangatlah bermanfaat bagi pribadi maupun kelompok masyarakat yang memiliki visi, misi, dan tujuan yang hendak dicapai.









beli sekarang

Konsep organisasi

Organisasi memiliki dua konsep yaitu konsep statis dan konsep dinamis.



1. Konsep statis

Dalam konsep statis, organisasi merupakan sebuah struktur atau jaringan hubungan tertentu. Dalam artian, organisasi adalah sekelompok orang yang terikat bersama dalam hubungan formal untuk mencapai tujuan bersama.



2. Konsep dinamis

Dalam konsep dinamis, organisasi merupakan sebuah proses dari aktivitas yang sedang berlangsung. Dalam artian, organisasi adalah proses pengorganisasian, pekerjaan, orang dan sistem. Hal ini berkaitan dengan proses menentukan kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan sebuah kelompok.


Karakteristik organisasi

Organisasi memiliki beberapa karakteristik, yaitu:



1. Koordinasi

Koordinasi dari berbagai aktivitas adalah sebuah hal penting dalam organisasi. Koordinasi akan membantu dalam mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai kegiatan. Koordinasi juga menghindari penundaan pekerjaan. Berbagai fungsi dalam sebuah organisasi bergantung satu sama lain dan juga mempengaruhi satu sama lain.


Di dalam sebuah organisasi pada umumnya akan terdapat sebuah struktur, dimana apabila koordinasi yang ada tidak berjalan dengan baik maka akan mempengaruhi pada hasil kerja. Pelajari hal-hal dasar lainnya mengenai organisasi melalui buku Organisasi: Struktur, Perilaku, Proses Dan Hasil.




beli sekarang

2. Divisi pekerjaan

Organisasi berurusan dengan seluruh tugas. Berbagai aktivitas ditugaskan kepada para anggota yang berbeda untuk pencapaian efisien neraka. Namun hal ini bukan berarti bahwa satu anggota tidak dapat menjalankan banyak fungsi tetapi spesialisasi dalam pekerjaan yang berbeda sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas seseorang. Organisasi membantu dalam membagi pekerjaan menjadi aktivitas yang ditugaskan untuk individu berbeda.


Dengan adanya pembagian tugas tersebut, penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki manajemen yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditentukan terlebih dahulu seperti halnya yang dibahas pada buku Manajemen Organisasi oleh Khaerul Umam.




beli sekarang

3. Tujuan yang sama

Semua struktur organisasi merupakan sarana menuju pencapaian tujuan perusahaan yang sama. Struktur organisasi harus dibangun berdasarkan tujuan yang jelas, hal ini akan membantu pencapaian organisasi dengan benar.


4. Hubungan Kooperatif

Organisasi yang memiliki struktur yang baik akan menciptakan hubungan kerjasama di antara berbagai anggota organisasi. Sebuah organisasi tidak dapat dibentuk oleh satu orang, setidaknya membutuhkan dua orang atau lebih.


Organisasi yang baik akan membantu menciptakan hubungan yang bermakna, hubungan harus vertikal dan horizontal di antara anggota dan di berbagai divisi. Struktur organisasi harus dirancang agar dapat memotivasi anggota untuk melakukan bagian pekerjaan masing-masing.


5. Hubungan otoritas-tanggung jawab yang ditetapkan dengan baik

Sebuah organisasi terdiri dari berbagai posisi yang diatur dalam hierarki dengan wewenang dan tanggung jawab yang jelas. Tentunya selalu ada otoritas pusat untuk organisasi yang baik. Hierarki posisi dalam organisasi menentukan garis komunikasi dan pola hubungan.  


Dalam menjaga hubungan tersebut, pentingnya ada budaya organisasi yang diterapkan dengan baik. Pelajari hal tersebut melalui buku Budaya Organisasi karya Dr. Edy Soetrisno, M.Si.




beli sekarang

Metafora Organisasi

Metafora adalah sebuah cara untuk menstimulasi imajinasi bagi ide baru. Menurut Gareth Morgan, ada empat metafora yang terbukti dapat membantu untuk membentuk gambaran dari organisasi yaitu: mesin, organisme (makhluk hidup), budaya dan penjara psikis.


Metafora mesin dan organisme menjadi yang pertama dan paling cocok untuk memvisualisasikan organisasi sebagai struktur atau sistem untuk dirancang dan dikendalikan. Sedangkan untuk metafora budaya dan penjara psikis akan berkembang kemudian.


Budaya menyajikan gambaran yang lebih cocok untuk memahami pengorganisasian sebagai proses yang timbul dari interaksi sosial dan pencitraan, sedangkan metafora penjara psikis menawarkan sikap kritis untuk metafora lainnya.


1. Organisasi sebagai mesin

Metafora mesin asal-usulnya sudah ada sejak 300 tahun awal di era industri. Sebuah mesin dirancang untuk melakukan pekerjaan secara efektif dan dapat melakukan pekerjaan yang bersifat repetitif.


Frederick Taylor seorang teknisi, terinspirasi tentang cara kerja mesin untuk menemukan gerakan yang paling efisien bagi manusia untuk digunakan ketika mengerjakan pekerjaan manual.


Taylor kemudian mengklaim pendekatan ilmiahnya. Saat ini metafora mesin dapat mendorong para manajer untuk merancang semua aspek organisasi mereka untuk memaksimalkan pekerjaan.


Dalam mendesain sebuah mesin untuk melakukan suatu pekerjaan, seseorang harus menentukan tugasnya misalnya, mesin untuk menenun kain. Hal ini tentunya juga berlaku dalam sebuah organisasi. Namun tentunya, tugas organisasi lebih rumit dari sebuah mesin. Tujuan, misi, dan sasaran organisasi adalah menentukan tugas-tugas untuk organisasi tersebut. Untuk dunia bisnis, fungsi ini bisa saja untuk memproduksi pesawat terbang atau bahkan memproduksi makanan.


Organisasi non-bisnis juga memiliki tujuan misalnya untuk menyediakan pendidikan tinggi seperti sekolah atau universitas.Penerapan metafora mesin cenderung  memusatkan perhatian pada cara kerja internal  dari organisasi tersebut, seperti bagaimana mereka melakukan produksi atau melakukan tugas pengiriman.


Namun, organisasi juga harus mengerjakan tugas lain seperti, membeli bahan-bahan mentah, menjual produk dan lain-lain. Sama halnya dengan manajer, mereka juga harus melakukan rekrutmen, mempertahankan para pekerja, dan juga merancang pekerjaan. Namun, metafora mesin tidak cukup cocok untuk mendeskripsikan hal tersebut.


2. Organisasi sebagai makhluk hidup atau organisme

Metafora organisme berkembang lebih lambat daripada metafora mesin. Metafora ini muncul bersama dengan seorang ahli biologi, Charles Darwin.



Organisme adalah sistem kehidupan yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan. Begitupula dengan organisasi yang dalam mencapai tujuannya harus bergantung dengan kemampuan orang yang ada disekitarnya. Salah satu cara yang paling tepat untuk menjaga hubungan tersebut adalah dengan komunikasi yang baik seperti halnya yang dibahas pada buku Komunikasi Organisasi.




beli sekarang


Memperlakukan organisasi sebagai organisme yang adaptif terhadap lingkungan akan mengarahkan pada dinamika persaingan, ketergantungan pada sumber daya yang tersedia dan pada tuntutan untuk perubahan. Gagasan bahwa organisasi seperti organisme, memiliki bagian yang saling berkaitan.


Sistem tubuh manusia terdiri dari pencernaan, anatomi, peredaran darah, pernafasan dan sistem saraf. Semuanya mengerjakan berbeda-beda pekerjaan seperti mengubah makanan menjadi sebuah energi dan mentransfer oksigen dari paru-paru ke darah, dengan demikian sel-sel di tubuh dapat merasakan sesuatu.


Demikian pula dengan operasional organisasi. Organisasi juga memiliki tujuan untuk menghasilkan sebuah barang atau jasa. Sementara itu, staf di bidang keuangan, pemasaran, komunikasi dan lain-lainnya melakukan fungsi atau pekerjaannya masing-masing.


3. Organisasi sebagai budaya

Antropologi dan literatur juga mengusulkan bahwa organisasi dapat dilihat sebagai budaya. Clifford Geertz, antropolog budaya menggabungkan hal ini dalam menawarkan padangan simbolis tentang budaya.


Dalam pemahaman humanistik, tentunya akan membawa pertanyaan-pertanyaan baru seperti, apa kekuatan sosial dan emosional berasal dari suatu grup dan bagaimana pengaruhnya terhadap struktur organisasi?


Apa konsep seperti artefak, adat istiadat dan tradisi dapat memberitahu kita tentang organisasi? Dapatkah sebuah budaya menjelaskan kesuksesan atau kegagalan dari sebuah organisasi?


Metafora budaya menekankan emosi dan nilai-nilai yang menciptakan landasan kuat dan kokoh bagi aktivitas dan aspirasi anggota organisasi. Upacara dan ritual dapat mengikat anggota organisasi bersama-sama atau bahkan saat mereka menceritakan kisah-kisah masa lalu mereka.



Secara keseluruhan simbol-simbol ini membentuk pola makna yang membuat budaya dapat membantu orang mengidentifikasi satu sama lain dan menghormati apa yang mereka yakini.  Ada sisi gelap dalam budaya. Sebuah budaya memiliki pengaruh yang besar dalam mengendalikan kekuatan hati dan pikiran penganutnya.


Jika budaya organisasi berada di bawah pengaruh subkultur manajemennya, para anggota dapat terpenjara oleh norma dan harapan yang tidak mengungkapkan nilai-nilai sejati mereka.


4. Organisasi sebagai penjara psikis

Budaya dan alam bawah sadar dapat dianggap sebagai sisi berlawanan dari koin yang sama. Psikiater Sigmund Freud menganggap budaya sebagai fenomena kolektif yang timbul dari dinamika  alam bawah sadar para penganutnya.


Ide dari Carl Jung berlawanan dengan Sigmund Freud. Dia menganggap bahwa masa lalu budaya seseorang menyediakan pengalaman dan ingatan. Bagaimanapun, ide tentang hubungan budaya dengan alam bawah sadar memberikan cara baru untuk berpikir tentang organisasi.


Contohnya dalam psikoanalisis Freud menunjukan bahwa emosi seperti cemas dan keinginan akan menghasilkan sebuah realitas yang dihuni dengan manusia, dengan demikian hal ini menjadi bagian dari organisasi mereka.


Freud mempercayai bahwa untuk hidup harmonis dengan yang lainnya, manusia mengendalikan impuls mereka melalui psikologis alam bawah sadar seperti mekanisme penolakan, perpindahan, rasionalisasi, regresi dan sublimasi.



Dengan membantu seorang individu mengenali perasaan impuls mereka dan mekanisme psikologisnya, Freud mengklaim bahwa dia dapat menyembuhkan pasien yang mengalami depresi, hipokondria, obsesi atau narsisme.


Organisasi memiliki kecenderungan neurotik serupa yang dapat terwujud sebagai konflik atau perilaku disfungsional lainnya yang dapat mengancam organisasi tersebut. Dilihat dengan hal ini metafora alam bawah sadar juga menyediakan jalan untuk pengetahuan organisasi dan manfaat psikologisnya, termasuk untuk mengubah kepribadian atau identitas sebuah organisasi.


Menerapkan metafora penjara psikis menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana organisasi dapat membawa perubahan positif bagi para anggotanya.


Menggambarkan organisasi sebagai penjara psikis mendorong kritik terhadap manajemen dan dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran kita dengan harapan mengubah organisasi demi kemajuan semua anggotanya.


Sumber: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-organisasi/

Kepemimpinan

 Pengertian Kepemimpinan: Aspek, dan Macam Teori Kepemimpinan

Apa itu kepemimpinan? Sebuah perusahaan, kelompok atau organisasi pasti memiliki tujuan. Agar tujuan-tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif dan efisien, dibutuhkanlah seorang pemimpin. Selain itu, sosok pemimpin tersebut harus menerapkan sifat kepemimpinan dengan baik dan benar.

Kepemimpinan adalah hal yang memegang peran dominan, kritikal, krusial dalam keseluruhan upaya. Upaya yang dimaksud adalah untuk meningkatkan prestasi kerja. Baik pada tingkat individual, kelompok atau organisasi.

Lalu, apa itu kepemimpinan? Artikel ini akan membahas mengenai apa itu kepemimpinan secara umum dan dari para ahli. Selain itu, akan dibahas pula mengenai aspek dan teori-teori kepemimpinan.

Pengertian Kepemimpinan

pengertian kepemimpinanApa itu kepemimpinan? Kepemimpinan adalah sebuah kekuatan atau kemampuan yang ada di dalam diri seseorang. Sikap kepemimpinan tersebut digunakan ketika memimpin.

Salah satu pengaruh yang ditimbulkan dati sikap kepemimpinan tersebut adalah dapat mempengaruhi seseorang. Pengaruh yang diberikan ini dimaksudkan di dalam sebuah pekerjaan atau organisasi. Hal itu dikarenakan umumnya sikap kepemimpinan dibutuhkan seseorang dalam memimpin sebuah pekerjaan atau organisasi.

Tujuan dari sikap kepemimpinan tersebut adalah untuk mencapai sebuah target atau goal. Baik di bidang pekerjaan atau sebuah organisasi, selalu ada target yang ingin di capai. Target-target yang sudah ditentukan tersebut dapat terlaksana karena adanya sikap kepemimpinan.

Kepemimpinan adalah sikap yang ada di dalam seorang pemimpin. Sedangkan pemimpin adalah seseorang yang sudah diberi kepercayaan. Kepercayaan tersebut digunakan untuk menjadi sebuah kepala atau ketua di dalam perusahaan atau organisasi.

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang pemimpin tentu harus memiliki kemampuan untuk memandu anggotanya. Selain itu, seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi sekaligus meyakinkan sekelompok orang atau seseorang. Ketika pemimpin dan anggotanya sudah berada di jalur yang sama, maka apa yang ditargetkan akan lebih mudah dicapai.

Lalu, apa itu kepemimpinan secara umum? Secara umum, kepemimpinan adalah sesuatu yang ada di dalam diri seseorang. Kepemimpinan tersebut dapat mempengaruhi seseorang.

Selain itu, sikap kepemimpinan juga dapat digunakan untuk memandu sebuah pihak tertentu. Tujuan dilakukannya hal tersebut adalah supaya dapat mencapai sebuah tujuan. Di dalam KBBI atau kamus besar bahasa Indonesia, kepemimpinan adalah perihal pemimpin atau cara memimpin. Sedangkan pemimpin menurut KBBI adalah orang yang memimpin.

Leadership Reformed - Reformasi Kepemimpinan

Leadership Reformed – Reformasi Kepemimpinan


Beli Buku di GramediaPengertian Kepemimpinan Menurut Para Ahli

apa itu kepemimpinanPengertian kepemimpinan atau apa itu kepemimpinan juga banyak dikemukakan oleh para ahli. Para ahli mengemukakan gagasannya dalam bentuk pendefinisian dari kata kepemimpinan. Berikut ini adalah beberapa ahli yang mengemukakan tentang apa itu kepemimpinan:


1. Wahjosumidjo

Kepemimpinan menurut Wahjosumidjo pada hakikatnya merupakan sesuatu yang melekat di dalam diri seorang pemimpin. Sesuatu tersebut adalah berupa sifat-sifat tertentu. Seperti kepribadian atau personality, kemampuan atau ability dan kesanggupan atau capability.


Kepemimpinan juga diartikan sebagai sebuah rangkaian kegiatan atau activity. Seorang pemimpin tidak akan dapat dipisahkan dengan kedudukan atau posisi, serta gaya atau perilaku dari pemimpin itu sendiri. Kepemimpinan adalah sebuah proses antara hubungan atau interaksi di antara pemimpin, anggota atau pengikutnya serta situasi.


2. Sutarto Wijono

Arti kepemimpinan menurut Sutarto adalah sebuah rangkaian aktivitas penataan. Aktivitas tersebut berupa kemampuan seseorang dalam mempengaruhi perilaku orang lain. Hal itu dilakukan dalam situasi tertentu. Tujuannya adalah agar bersedia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan.


3. Moejiono

Menurut Moejiono, kepemimpinan atau leadership sebenarnya adalah akibat dari pengaruh yang terjadi secara satu arah. Hal itu terjadi karena seorang pemimpin mungkin memiliki sebuah kualitas tertentu. Kualitas tersebut adalah sesuatu yang membedakan dirinya dengan para pengikutnya.


Para ahli teori sukarela atau compliance induction theorist, akan cenderung memandang sebuah kepemimpinan atau leadership sebagai pemaksaan. Selain itu, kepemimpinan adalah pendesakan pengaruh yang terjadi secara tidak langsung. Kepemimpinan adalah sarana untuk membentuk sebuah kelompok yang sesuai dengan keinginan pemimpinnya.


4. Sondang P. Siagian

Kepemimpinan bisa diartikan sebagai sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan tersebut ada ketika menjabat sebagai seorang pemimpin di dalam organisasi tertentu. Kemampuan yang dimaksud adalah untuk mempengaruhi orang lain, khususnya bawahannya atau anggotanya. Hal ini dilakukan supaya mereka dapat bertindak dan berpikir sesuai sebuah lahan tertentu. Supaya sebuah tujuan bisa dicapai dengan mudah.


5. Imam Moejiono

Pengertian kepemimpinan menurut Imam Moejiono adalah sebuah kemampuan yang dimiliki dalam memberikan pengaruh satu arah. Hal itu karena seorang pemimpin mungkin memiliki beberapa kualitas tertentu. Kualitas tersebut umumnya adalah sesuatu yang berbeda dari para pengikutnya.


6. Fiedler

Apa itu kepemimpinan? Fiedler menjelaskan bahwa kepemimpinan pada dasarnya adalah sebuah pola. Pola tersebut tergambar antara individu yang telah menggunakan sebuah wewenang. Selain itu, individu tersebut juga menggunakan pengaruhkan kepada sekelompok orang. Tujuan dilakukannya hal tersebut adalah supaya orang-orang akan bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan.


7. Ott

Kepemimpinan adalah sesuatu yang bisa didefinisikan sebagai suatu proses hubungan antar pribadi. Dimana hubungan tersebut yang di dalamnya akan ada sebuah pengaruh kepercayaan, sikap, serta khususnya perilaku orang lain yang dilakukan oleh seseorang.


8. Stoner

Kepemimpinan menurut Stoner adalah sebuah proses dalam mempengaruhi atau mengarahkan sebuah kegiatan. Kegiatan tersebut terkait dengan kelompok atau organisasi. Tujuannya adalah untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.


9. Ralp M. Stogdill

Pengertian kepemimpinan menurut Ralph M. Stogdill adalah sebuah proses untuk memberikan pengaruh bagi berbagai kegiatan kelompok yang terorganisasi. Hal itu dilakukan dalam usaha mereka untuk menetapkan serta mencapai sebuah target.


10.Hemhiel dan Coons

Menurut Hemhiel dan Coons, kepemimpinan adalah sebuah perilaku dari individu, ketika memimpin aktivitas dalam organisasi atau kelompok. Tujuannya adalah untuk mencapai tujuan secara bersama atau shared goal.


11. George R. Terry

Kepemimpinan atau leadership adalah sebuah kegiatan untuk mempengaruhi orang lain. Pengaruh tersebut dilakukan untuk diarahkan dalam mewujudkan tujuan dari sebuah organisasi.


12. Jacobs dan Jacques

Jacobs dan Jacques menjelaskan bahwa arti kepemimpinan adalah sebuah proses dalam memberi arti terhadap usaha kolektif. Hal itu membuat adanya kesediaan dalam melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sebuah tujuan.


13. Charles F. Rauch dan Orlando Behling

Rauch dan Behling menjelaskan bahwa arti kepemimpinan adalah sebuah proses dalam mempengaruhi berbagai aktivitas dari sebuah kelompok. Aktivitas tersebut yang diorganisasikan ke arah pencapaian berbagai tujuan.


14. Kenneth N. Wexley dan Gary Yukl

Menurut Wexley dan Yukl, kepemimpinan adalah sebuah kegiatan dalam mempengaruhi orang lain. Pengaruh tersebut ditujukan supaya lebih berupaya dalam mengarahkan tenaga di dalam tugasnya, atau mengubah perilaku-perilaku mereka.


15. Sullivan dan Decker

Kepemimpinan adalah penggunaan keterampilan seseorang. Keterampilan tersebut digunakan dalam mempengaruhi orang lain dalam melaksanakan sesuatu dengan sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.


Aspek Penting Kepemimpinan

aspek-aspek kepemimpinanAspek penting di dalam sebuah kepemimpinan tercantum di dalam buku yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia (2009). Buku tersebut karya dari Edy Sutrisno. Dijelaskan bahwa kepemimpinan memiliki tiga aspek penting, di antaranya adalah sebagai berikut:


1. Seorang pemimpin harus melibatkan orang lain

Orang lain yang dimaksud di sini adalah sebagai pengikut, bawahan, atau anggota-anggota kelompok. Kesediaan dari anggota kelompok dalam menerima sebuah arahan dari pemimpin tentu akan membantu. Melalui hal tersebut, akan membantu menegaskan status pemimpin.


Selain itu, akan memungkinkan terjadinya sebuah proses kepemimpinan. Tanpa adanya bawahan atau anggota, semua sikap dan sifat dari kepemimpinan seorang pemimpin menjadi tidak relevan.


2. Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan

Aspek kedua, kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan para anggota kelompok. Maksud dari aspek ini adalah anggota kelompok tetap memiliki kuasa di dalam sebuah organisasi. Mereka dapat membentuk kegiatan kelompok melalui berbagai cara. Akan tetapi, kekuasaan dari pemimpin organisasi cenderung akan lebih tinggi, jika dibandingkan dengan anggota kelompoknya.


3. Kepemimpinan sebagai kemampuan dalam menggunakan kekuasaan

Aspek ketiga dari kepemimpinan adalah sebagai kemampuan dalam menggunakan berbagai bentuk kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pemimpin umumnya akan digunakan dalam memengaruhi perilaku anggota kelompoknya. Hal itu dilakukan melalui sejumlah cara.


Pada dasarnya, para pemimpin akan memengaruhi para anggota kelompoknya. Supaya anggota kelompok dapat melakukan pengorbanan secara pribadi. Pengorbanan tersebut digunakan demi tujuan organisasi. Oleh karena itu, para pemimpin diharapkan memiliki kewajiban khusus dalam mempertimbangkan etika, saat akan mengambil sebuah keputusan.


Teori Kepemimpinan

teori-teori kepemimpinan1. Great Man Theory

Great Man Theory yang dikenal sebagai teori orang hebat ini berkembang sejak abad ke-19. Teori ini membuat asumsi mengenai sifat kepemimpinan dan bakat kepemimpinan. Teori ini menyebutkan bahwa hal-hal tersebut dibawa seseorang sejak orang itu dilahirkan.


Meskipun tidak dapat diidentifikasi dengan sebuah kajian ilmiah mengenai karakteristik serta kombinasi manusia seperti hal apa yang bisa dikatakan sebagai pemimpin yang hebat, tetapi sudah banyak orang mengakui bahwa hanya satu orang di antara banyak individu, pasti memiliki ciri khas sebagai seorang pemimpin yang hebat.


2. Teori gaya dan perilaku

Teori kepemimpinan berdasarkan gaya dan perilaku ini disebut sebagai kebalikan dari teori orang hebat atau great man theory. Teori berdasarkan gaya dan perilaku ini menyatakan bahwa pemimpin yang hebat itu dibuat. Teori ini menjelaskan bahwa pemimpin yang hebat itu bukan berasal sejak mereka dilahirkan.


Teori kepemimpinan ini memfokuskan pada tindakan dari seorang pemimpin. Vulkan pada kualitas sifat, mental atau karakter bawaan dari orang tersebut. Teori gaya dan perilaku ini juga menyebutkan bahwa seseorang dapat belajar serta berlatih menjadi pemimpin.


Pelatihan tersebut dilakukan melalui sebuah ajaran, pengalaman serta pengamatan yang dilakukan secara baik. Teori ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang efektif adalah hasil dari tiga keterampilan utama. Keterampilan tersebut, disebut dimiliki oleh individu. Di antaranya adalah keterampilan teknis, keterampilan manusiawi dan keterampilan konseptual.


3. Trait Theory

Trait Theory juga sering disebut sebagai teori sifat kepribadian. Teori ini meyakini bahwa seseorang yang dilahirkan atau dilatih menggunakan sebuah kepribadian tertentu, maka mereka akan menjadi unggul dalam peran kepemimpinannya.


Hal tersebut dapat diartikan sebagai kualitas kepribadian tertentu. Contohnya seperti kecerdasan, keberanian, kecakapan, pengetahuan, imajinasi, daya tanggap, kreativitas, fisik, disiplin, rasa tanggung jawab dan nilai-nilai lainnya yang membuat seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik.


Teori kepemimpinan ini memfokuskan pada analisis karakteristik fisik, mental dan sosial. Gunanya adalah untuk mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan serta pemahaman mengenai karakteristik dan kombinasi karakteristik yang umum di antara pemimpin-pemimpin.


4. Behavioral Theories

Teori kepemimpinan behavioral theories ini adalah reaksi dari trait theory. Behavioral theories atau teori perilaku ini menghadirkan sudut pandang yang baru mengenai kepemimpinan. Daripada karakteristik fisik, mental dan sosial dari seorang pemimpin, teori ini memberikan perhatian pada perilaku para pemimpin itu sendiri.


Teori ini juga menganggap bahwa keberhasilan seorang pemimpin akan ditentukan dari perilakunya. Seperti perilaku dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan. Serta perilaku tersebut juga dapat dipelajari atau dilatih.  Selain itu, teori ini juga menganggap bahwa kepemimpinan yang terbilang sukses adalah yang didasarkan pada perilaku yang bisa dipelajari. 



5. Contingency Theory

Contingency theory menganggap bahwa tidak ada acara yang paling baik untuk menyatakan dan memimpin. Teori ini menganggap bahwa setiap gaya kepemimpinan harus didasarkan pada kondisi dan situasi tertentu. Atas dasar teori kontingensi ini, seseorang akan mungkin dapat berhasil tampil dan memimpin, dengan sangat efektif pada situasi, kondisi dan tempat tertentu.


Akan tetapi, kinerja kepemimpinan juga berubah sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Apabila pemimpin tersebut dipindahkan ke kondisi dan situasi lain, atau ketika faktor-faktor di sekitarnya juga telah berubah pula. Contingency Theory atau teori kontingensi ini juga sering disebut dengan teori kepemimpinan situasional.


Perilaku Kepemimpinan: Efek dan Implementasi bagi Nilai-Nilai Organisasi

Perilaku Kepemimpinan: Efek dan Implementasi bagi Nilai-Nilai Organisasi


Beli Buku di Gramedia6. Teori Servant

Teori kepemimpinan selanjutnya adalah teori servant. Dalam bahasa Indonesia, disebut sebagai pelayan. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 1970 an. Teori ini meyakini bahwa seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat bertugas melayani, menjaga serta memelihara kesejahteraan fisik dan mental para anggota atau pengikutnya.


Gaya kepemimpinan ini cenderung terfokus untuk memenuhi kebutuhan dari pengikutnya. Serta membantu mereka untuk menjadi lebih mandiri dan berwawasan yang lebih luas. Pada teori inim pemimpin yang baik diharuskan memiliki simpati. Selain itu, dapat meredakan kecemasan yang dirasa berlebihan dari anggotanya.


Oleh karena itu, fungsi kepemimpinan diberikan pada seseorang yang pada dasarnya memiliki jiwa melayani atau pelayan. Teori ini menunjukkan bahwa tugas seorang pemimpin untuk berkontribusi dalam kesejahteraan orang lain. Hal itu adalah bentuk dari pertanggungjawaban sosial.


7. Teori transaksional

Transaksional berasal dari kata dasar transaksi. Teori ini menggambarkan sebuah gaya kepemimpinan yang berdasar pada perjanjian atau kesepakatan. Perjanjian atau kesepakatan tersebut dibuat seseorang dengan orang lain.


Dalam hal ini, tentu yang menjadi pelaksana adalah pemimpin dan staf atau anggotanya. Perjanjian tersebut dibuat dengan tujuan mendapat pertukaran atau transaksi yang sepadan. Atau saling menguntungkan di antara pemimpin dan stafnya.


Seorang staf yang dapat melaksanakan tugas dari seorang pemimpin dengan baik, adalah nilai yang lebih. Baik untuk staf maupun untuk pemimpin yang telah memberikan tugas tersebut. ketika tugas itu diselesaikan dengan baik, maka seorang pemimpin akan memberi apresiasi.


Bentuk apresiasinya bisa beragam, seperti kenaikan gaji, tunjangan, bonus, kenaikan posisi dan lain sebagainya. Pemberian apresiasi berupa yang atau tanda mata yang lain adalah bentuk penghargaan atas kinerja seseorang. Hal itu akan membuat seseorang tersebut merasa kerja kerasnya dihargai. Penghargaan ini juga termasuk suatu bentuk yang sudah disepakati sebelumnya.


8. Teori transformasional

Teori ini mengacu pada kata transformasi, kata tersebut memiliki arti umum perubahan. Teori kepemimpinan transformasional adalah sebuah teori yang mengarahkan pada istilah “memanusiakan manusia”. Teori ini mengedepankan pendekatan personal pemimpin dengan bawahannya atau organisasi.


Hal itu dilakukan dalam rangka mengubah kesadaran, membangun semangat serta memberi inspirasi. Dilakukan demi mencapai tujuan bersama, tanpa merasa ditekan atau tertekan. Bahkan, mampu memberikan motivasi pada setiap anggotanya.


Gaya kepemimpinan transformasional selalu ingin mengelola lembaga atau organisasi yang dipercayakan pada orang tersebut dengan lebih efisien dan efektif.


Itulah penjelasan mengenai apa itu kepemimpinan, aspek-aspek kepemimpinan dan teori-teori kepemimpinan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat, maka sikap kepemimpinan harus ditanamkan dan dibentuk. Melalui pengalaman, pelatihan dan cara-cara lainnya.


Sumber : https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-kepemimpinan/